Kisah Uwais al-Qarni Memuliakan Ibunya

Kisah Uwais al-Qarni Memuliakan Ibunya

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Rasulullah SAW pernah berkata kepada seorang lelaki yang bertanya kepadanya. “Ya Rasulullah, siapa dari manusia yang paling berhak aku utamakan? Rasulullah SAW bersabda, “ibumu.” Laki-laki tersebut kembali bertanya, “Kemudian siapa lagi?” Rasulullah kemudian ibumu.” Laki-laki tersebut bertanya kembali, “Kemudian siapa lagi?” Rasulullah bersabda lagi, “kemudian ibumu.” “Kemudian, siapa lagi?” Rasulullah bersabda, “kemudian ayahmu.” (HR Muslim).

Uwais al-Qarni menjadi sebuah narasi betapa Rasulullah mewasiatkan kepada kita untuk menyayangi ibu. Seorang fakir dari Yaman yang tidak pernah berjumpa dengan Rasulullah. Namanya tidak pernah disebut di kalangan para sahabat. Namun, sosoknya dikagumi bahkan oleh Nabi. Dalam sebuah hadis riwayat Ahmad, Rasulullah pernah bersabda, “Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya. Dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi.”

Amalnya memang tidak main-main. Uwais amat patuh dan hormat kepada ibunya yang lumpuh. Pada satu waktu, Uwais pernah meminta izin kepada ibunya untuk pergi ke Madinah untuk berjumpa dengan Rasulullah SAW.

Ibunya memberi izin dengan syarat untuk cepat pulang karena merasa sakit-sakitan. Sesampainya di Madinah, Uwais tidak mendapati Rasulullah. Nabi SAW tengah memimpin pasukan Muslimin untuk berangkat perang. Mengingat pesan ibunda, Uwais lekas pulang. Dia hanya menitip pesan kepada Siti Aisyah Ra.

Kisah lain dari Uwais, yakni keteguhannya untuk memenuhi permintaan ibunya untuk pergi haji. Padahal, keluarga mereka tengah berada dalam impitan ekonomi. Ide gila Uwais tercetus. Dia harus melatih fisiknya de ngan menggendong seekor lembu setiap hari. Logika sederhana Uwais, ketika fisiknya kuat, dia mampu menggendong ibunya untuk pergi berhaji.

Dia pun mulai me nabung bahan makanan sebagai bekal perjalanan untuk ibunya. Hingga musim haji tiba, berangkatlah ibu yang lumpuh untuk menunaikan rukun Islam ke-lima lewat punggung anak nya.

Lantas, apakah amal itu bisa membalas jerih ibu saat melahirkan dan menyusui? Ibnu Umar pernah melihat seseorang lelaki menggendong ibunya sambil bertawaf mengelilingi Ka’bah. Dia lantas bertanya kepadanya. “Wahai Ibnu Umar, apakah aku sudah membalas kebaikan ibuku?” Ibnu Umar menjawab, “Belum meski sekadar satu serangan ibumu ketika melahirkanmu. Akan tetapi, engkau sudah berbuat baik. Allah akan memberi balasan yang banyak terhadap sedikit amal yang engkau lakukan.”

Tidak heran Rasulullah SAW jika menyuruh manusia untuk mencari surga lewat keridhaan ibunya. “Surga itu di bawah te lapak kaki ibu.” (HR Ahmad, an- Nasai, Ibn Majah, dan al-Hakim).

Berdasarkan tafsir ulama hadis, maksud dari hadis itu ada lah ukuran dalam berbakti dan khid mat kepada ibu bagaikan debu yang berada di bawah telapak kaki mereka. Mendahulukan kepentingan mereka atas kepentingan sendiri dan memilih berbakti ke pada mereka daripada berbakti pada setiap hamba-hamba Allah lainnya.

Ibu rela menanggung beban penderitaan kala mengandung, melahirkan, menyusui, dan mendidik buah hati mereka.

 

sumber : https://www.republika.co.id/berita/pvb2m5313/kisah-uwais-alqarni-memuliakan-ibunya

Leave a Reply

Close Menu
×
WhatsApp Order Via Whatsapp